Monday, March 8, 2021

Zona 7 Day 5

 Bismillah.

Mengenakan kerudung sejak bayi.

Alhamdulillah Allah mengaruniakan saya dua anak perempuan (dan satu lagi dalam 'perjalanan'). Keduanya saya mulai pakaikan kerudung sejak bayi tiap kali keluar rumah. Sehingga ketika ia mulai bisa berbicara dan meminta ikut pergi keluar rumah, maka saya syaratkan: Ambil dan pakai kerudungnya dulu ya..

Children see children do. Apa yang dilihat anak, akan diikutinya. Saya pun begitu. Setiap kali saya akan keluar rumah, saya mengenakan kerudung (lengkap dengan gamis/kaos kaki dan cadar apabila keluar jauh). Apabila ada tamu yang mengetuk pintu, saya memakai kerudung terlebih dahulu sebelum membuka pintu. Bila ada non mahrom di rumah, saya pun mengenakan kerudung. Untuk video call dengan kakek/neneknya pun saya mengenakan kerudung. Sehingga pembiasaan tersebut menjadikan kerudung (dan cadar) bukan hal yang asing bagi anak.

Saya pun memasang gantungan baju yang ditempelkan pada meja dengan tinggi yang sejajar dengan mata anak. Sehingga ia dapat menggantungkannya kembali kerudungnya (dan jaket) setelah pulang bepergian. Kebiasaan tersebut alhamdulillah awet hingga sekarang. Setiap kali pulang dari bepergian, anak-anak sudah tahu dimana ia harus meletakkan kembali kerudung dan jaketnya. Hal tersebut melatih anak-anak untuk mengembalikan barang pada tempatnya dan menjadikan kerudung dan jaket untuk bepergian hal yang lumrah untuknya. MasyaAllah tabarokallah.

Apa tujuannya?

Hal ini  merupakan pendidikan seksual dasar bagi anak. Bahwa perempuan diwajibkan menutupi seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajah di luar rumah dan di hadapan non mahram. Jadi walaupun anak 'gerah' ia sudah terbiasa mengingat ia melihat Umi nya pun seperti itu. Jadi tidak hanya di luar rumah saja, ketika ada tamu (non mahram) di rumah, perempuan pun wajib menutup auratnya. Dan bahwa laki-laki dan perempuan auratnya berbeda. Sehingga laki-laki tidak diwajibkan mengenakan kerudung. Wallahu a'lam.

Zona 7 Day 4

 Bismillah.

"Kenapa kok perempuan nggak sholat di masjid?" 

Pertanyaan tersebut sering kali dilontarkan Azkiya ketika usianya menginjak 3,5 tahun. Setiap kali Abi nya berangkat sholat fardu ke masjid (Abi nya bekerja dari rumah, sehingga ia melihat Abi nya berangkat sholat setidaknya 4 kali sehari) pasti pertanyaan itu muncul. Dan saya harus menjelaskannnya lagi. Lagi. Dan lagi.

Lalu, mengapa kaum perempuan sholat nya di rumah? Ini bisa jadi salah satu pendidikan seksual bagi anak, yaitu perbedaan kewajiban laki-laki dan perempuan dalam sholat.

Saya mencoba menjelaskan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan berbeda. Kebutuhannya berbeda. Kewajiban dan haknya yang berbeda. Dan tentu saja penampilan fisiknya yang berbeda.Saya jelaskan bahwa khusus laki-laki, diharuskan sholat di masjid walaupun orang tersebut buta (dalam suatu riwayat seorang buta bertanya mengenai sholat di masjid dan ia dijatuhi kewajiban sholat di masjid karena masih dapat mendengar azan). Sedangkan untuk perempuan, Allah sayang sekali dengan kaum perempuan sehingga tidak diwajibkan sholat di masjid. Dan tempat yang paling tersembunyi di dalam rumahnya adalah sebaik-baik tempat untuk perempuan sholat.

Kenapa?

Karena kebutuhan dan kewajibannya berbeda. Laki-laki diharuskan mencari nafkah, bekerja keras untuk membiayai keluarganya, bertanggung jawab di dunia dan di akhirat. Sedangkan perempuan tidak wajib mencari nafkah. Allah sayang kaum perempuan, dan Maha Mengetahui bahwa perempuan tidak sekuat laki-laki. Perempuan diberi keringanan untuk tidak keluar rumah untuk sholat, karena ketika perempuan keluar rumah, maka syaithan mengikutinya (di titik ini Azkiya mulai tidak paham) menghiasinya, dan menjadikannya fitnah. Maka saya jelaskan alasan yang lebih sederhana. Seperti, perempuan banyak sekali urusannya di rumah seperti memasak, membereskaan rumah, mencuci piring/pakaian, sehingga Allah mempermudah perempuan untuk tidak perlu capek-capek dan repot (karna harus menutup aurat lengkap), dan membolehkan sholat di rumah. Karena sebaik-baik tempat perempuan adalah di rumah nya. Bukannya hal itu meringankan?

Tapi jika seorang perempuan ingin sholat di masjid, tidak boleh dilarang. Hal itu dibolehkan, tentu dengan beberapa syarat. Seperti bisa menghindari fitnah, dan tidak keluar rumah dengan berlenggak-lenggok, menggunakan parfum, atau berdandan berlebihan. Namun tetap saja, sholat di rumah bagi perempuan merupakan yang terbaik baginya.

Setelah dijelaskan panjang lebar, dan berkali-kali (setiap Abinya pamit berangkat sholat fardu di masjid), Azkiya mulai paham dan justru sering berkata; "laki-laki sholatnya di masjid, kalo perempuan kata Allah di rumah ya mi?". MasyaAllah walhamdulillah.


Zona 7 Day 3

 Bismillah.

Tidur pisah ranjang.

Alhamdulillah mulai dari usia 3 tahun Azkiya sudah bisa tidur siang di kamar sendiri. Padahal semenjak bayi dia harus sekali ada sentuhan fisik ketika akan tidur. Entah dielus-elus kepalanya, punggungnya, atau ditepuk-tepuk paha nya sampai dia tertidur pulas. Perlahan-lahan sambil dijelaskan bahwa Azkiya semakin bertambah usianya suatu saat nanti akan tidur sendiri, di kamar sendiri, terpisah dari kamar Umi-Abi. Dan untuk merealisasikannya, butuh proses.

Awalnya, (untuk tidur siang) saya membujuk agar Azkiya tidur tanpa diusap-usap. Cukup ditemani saja sambil tiduran di sampingnya (dan kebiasannya adalah tidur sambil memutar murottal surah yg sedang dihafalkan sebagai white noise). Alhamdulillah perlahan-lahan Azkiya bisa tidur sendiri tanpa adanya sentuhan fisik. Hanya ditemani. Setelah agak lama, saya mencoba meninggalkannya yang sudah pulas di kasur dan melakukan aktivitas domestik lainnya atau mengurus adiknya yang saat itu masih bayi.

Setelah mampu tidur tanpa diusap-usap, challenge nya pun meningkat. Kali ini saya mencoba tidak ikut tiduran di sampingnya, melainkan duduk di pinggir kasur sambil melakukan aktivitas ringan seperti melipat pakaian, membereskan kamar, baca buku, atau menggendong/memangku adiknya. Awalnya ia berkali-kali mengintip untuk melihat apa yang sedang saya kerjakan. Namun setelah berkali-kali ditegur, alhamdulillah pulas juga. Tahapan ini berlangsung berhari-hari.

Naik tantangan, ketika usianya menginjak 3 tahun lebih, saya mengajaknya untuk tidur siang di kamar, sendirian. Saya persiapkan kasurnya, tuck her in, memeluknya, mengajaknya membaca doa sebelum tidur, kemudian meninggalkannya di kamar sambil memutar murottal. Saya jelaskan pada Azkiya bahwa saya akan melakukan kegiatan domestik seperti mencuci piring, membereskan rumah, dan lainnya sementara ia tidur. Saya harus mengecek (mengintip ke dalam kamar) setiap 5-10 menit sekali untuk memastikan ia tidur. Awalnya memang ia masih bermain-main dengan bantal, selimut, atau boneka. Tapi setelah saya ingatkan (berkali-kali) alhamdulillah bi-idznillah ia pulas juga.

Hal ini berlangsung sampai usia nya menginjak 3,5 tahun. Alhamdulillah bi idznillah Azkiya bisa tidur siang sendiri. Bagaimana dengan tidur malam?

Qodarullah di rumah kami terdapat dua kamar. Satu kamar dialihfungsikan menjadi workshop Abi nya. Jadi hanya ada satu kamar untuk tidur. Namun, alhamdulillah Allah mampukan kami untuk membelikan ranjang tingkat ala anak pondok khusus untuk Azkiya sebagai amunisi dalam mempersiapkannya untuk tidur sendiri, tidak bersama Umi-Abi lagi.

Apa tujuannya?

Ketika anak memasuki usia tamyiz, kamar tidur anak (dianjurkan) sebaiknya dipisah. Dan ketika ingin memasuki kamar orang tua haruslah meminta izin terlebih dahulu. Maka sebagai bentuk ikhtiar kami mempersiapkan Azkiya agar lebih mandiri, dibuatlah kondisi kamar yang terpisah ranjang walau dalam satu kamar. Ke depannya kami akan menyekat satu ruangan dan menjadikannya kamar (sementara) untuk Azkiya.

Alhamdulillah di usianya yang belum genap 5 tahun, Azkiya sudah bisa tidur siang sendiri. Ia tahu nap-time routine nya, kapan ia harus tidur siang dan ia membereskan ranjangnya, membaca doa, meminta untuk diputarkan murottal, kemudian tidur. MasyaAllah. 

Mungkin terlihat tidak seberapa, namun bagi kami ini adalah salah satu ikhrtiar untuk menanamkan pendidikan seks dimana anak tidur terpisah dari orang tuanya (ketika usiaa tamyiz) sehingga tidak bercampur antara terlihatnya aurat pribadi orang tuanya dan anak-anaknya kelak. Wallahu a'lam.

Ujian (sekolah)

  Link download ada di bawah Salah satu mapel yang memang agak runyam -buat anak kelas 1 SD, dan terkhusus Azkiya- adalah PAM (Pendidikan An...