Tuesday, September 8, 2020

Tantangan Zona 1 Hari ke-6

 Hari ini mencoba berkomunikasi produktif dengan suami sendiri. Kenapa baru sekarang? Karena sebenarnya kami sudah mempelajari beberapa teknik komunikasi antara suami dan istri dari beberapa buku yang pernah saya baca -mengenai psikologi perempuan dan laki-laki- dan sebaik mungkin kami mencoba untuk mempraktekannya sehari-hari dengan  sebaik-baiknya, dan Alhamdulillah sudah banyak yang berubah walaupun tetap masih harus ditingkatkan lagi.

Sedangkan hari ini sebenarnya saya ada keinginan untuk meminta izin kepada suami untuk keluar jalan-jalan bersama teman dekat saya. Biasanya saya minta izin ya tinggal minta izin saja, tapi karena saya tertarik untuk mempraktekkan komunikasi produktif ini maka saya mencoba mencari waktu yang tepat untuk kami berbicara empat mata tanpa gangguan dari anak-anak dan ketika saat itu tiba -malam hari- saya pun berkata "hun, aku mau ngomong deh."

Dan suami pun jadi penasaran, "ngomong apa? Ngomong ya ngomong aja aku dengerin kok." Jawabnya.

Lalu saya tatap matanya dalam-dalam dan memberikan jeda beberapa detik. Suami makin penasaran "Mau ngomong apa sih?"

Saya pun masih diam dan hanya tersenyum sambil terus memandangi mata suami dan terlihat jelas bahwa suami semakin salah tingkah dengan tatapan dan senyuman saya, lalu saya mulai bicara, "sebenarnya..."

Jeda lagi beberapa detik suami makin gemas, "apa???"

"Aku mau izin jalan-jalan sama temen aku, si fulanah, kita mau janjian besok sore di dekat sini aja. Mau ngopi sambil ngobrol-ngobrol boleh nggak? Aku nitip anak-anak. Ya, me-time lah. Udah lama kayanya aku gak me-time jalan-jalan sendiri. Boleh yaaa?" Tanya saya agak manja.

"Ya ampun kirain mau ngomong apa. Ya boleh lah, masa enggak boleh? Asal diatur aja pas waktu anak-anak tidur atau anak-anak udah makan udah mandi, jadi nggak rewel pas kamu pergi."

"Oke! Siap kapten!! Makasih ya Hun" dengan detail gesture yang tidak akan saya ceritakan di sini, if you know what I mean.

Dan begitulah mini drama ala kami.


Result: ⭐⭐⭐⭐⭐

Monday, September 7, 2020

Tantangan Zona 1 Hari ke-5

 Tiba-tiba badan si dedek panas, dan ketika saya periksa di dalam mulutnya ternyata gigi gerahamnya baru mau tumbuh! Mungkin karena itulah badannya panas dan dia rewel. Akhirnya saya menggendongnya dari siang sampai bada ashar.


Saya menggendong Aliyya sambil menyuapi keduanya makan siang. Aliyya akhirnya tertidur pulas di gendongan lalu tiba-tiba saja Mbak Azkiya bertanya.

"Mi, kenapa Allah nggak kelihatan? Aku kan mau lihat Allah." Tanyata polos sekali sambil mendongakkan kepala ke atas.

Lalu saya balik tanya, "Memang Allah ada di mana, mbak?"

Azkiya menjawab, "Allah ada di atas langit. Tapi kok aku nggak lihat? kan aku mau lihat Allah." 

Bismillah. Saya membatin, semoga Allah lancarkan lisan saya dalam menjawab pertanyaan menggelitik ini. "Azkiya enggak bisa melihat wujud Allah, nanti pingsan loh!"

"Kok pingsan?" Tanyanya yang langsung menengok ke arah saya dengan wajah bingung.

Lalu saya menceritakan kisah nabi Musa alaihissalam yang memohon kepada Allah untuk dapat melihat wujud Allah. Lalu Allah memerintahkan beliau untuk datang ke sebuah gunung dimana nanti Allah akan menampakan wujudnya. Maka datanglah nabi Musa. 

"Kenapa nabi Musa bisa pingsan?"

Saya melanjutkan, "nabi Musa belum melihat Allah. Beliau baru melihat cahaya Nya saja, yang Allah tampakkan pada sebuah gunung, lalu gunungnya meledak hancur! Melihat itu saja Nahi Musa pingsan. Nabi Musa nggak kuat. Padahal Nabi Musa orang yang kuat, gagah, dan tangguh, tapi baru melihat cahaya Allah saja beliau sudah pingsan."

"Sekarang coba Azkiya bisa nggak menatap matahari secara langsung? Silau ya? Pasti susah ya untuk membuka mata Azkiya? Pasti matanya merem merem gitu kan? Silau sekali kan soalnya. Itu baru matahari, makhluk ciptaan Allah, bagaimana dengan pencipta matahari? Azkiya nggak akan bisa melihat Allah."

Azkiya pun terdiam lalu dia berkata, "Tapi nanti di surga bisa kan lihat Allah?"

"Iya, nanti kalau Azkiya masuk surga bisa ketemu Allah langsung! Allah yang janjikan. Tapi kalau mau masuk surga harus jadi anak yang salihah dulu. Yang nurut sama Ummi Abi, sama perintah Allah dan Nabi Muhammad, baru Azkiya bisa masuk surga. Mau jadi anak salihah?"

"Mau!!!" jawabnya semangat.


Prolog:


Alhamdulillah Azkiya sudah saya sounding dari ia mulai belajar babbling -belum jelas bicaranya- tentang tauhid ; siapa Tuhannya, ada di mana Tuhannya, ada berapa. Juga tentang kalimat tauhid, tentang siapa penciptanya, bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain pencipta manusia, bumi, dan segala isinya, yaitu Allah subhanahu wa ta'ala.

Terkadang banyak pertanyaan menggelitik yang keluar dari mulut Azkiya seperti yang saya ceritakan barusan; mengapa dia tidak bisa melihat Allah. Tapi alhamdulillah, dengan pertolongan Allah saya mencoba menjelaskan semampu saya, yang bisa saya lakukan saat itu. Saya berniat nantinya akan diperbaiki lagi dialog-dialog tentang tauhid bersama Mbak Azkiya. Insya Allah.


Result: ⭐⭐⭐⭐

Sunday, September 6, 2020

Tantangan Zona 1 Hari ke-4

Hari Ahad. Waktunya saya untuk deep clean the house alias beberes rumah! Benar-benar membersihkan dari ujung-ke-ujung! Saya memulai agak telat sekitar pukul 7 pagi, dimana anak-anak sudah mulai berlari-larian kesana kemari. 

Akhirnya saya memberikan mainan berupa beras berwarna pink, yang memang sudah lama sekali kami simpan. Dari si mbak kecil, 'alat' ini sudah dipergunakan baik untuk melatih motorik halusnya atau hanya untuk sekedar bermain. Dan saya sering sembunyikan agar anak-anak tetap excited saat memainkannya.

Sayapun memberikan beras berwarna pink tersebut kepada mbak Azkiya dan mengatakan, "Mbak main di teras ya bareng-bareng sama dedek, Ummi mau beres-beres rumah dulu. Azkiya sama dedek di depan dulu biar Ummi bisa nyapu ngepel, takut di dalam licin nanti kepleset. Oke? main sama-sama ya!"

Dengan gembira Mbak Azkiya menjawab oke dan mulai bermain dengan beras dalam baskom yang berisi beberapa printilan masak-masakan tentunya bersama si Dedek. Dan saya pun bisa membersihkan rumah dengan tenang. 

Selesai membersihkan bagian dalam rumah saya pun berniat untuk membersihkan teras. Namun alangkah kagetnya saya ketika saya melihat beras tercecer di seluruh lantai teras bahkan sampai ke luar pagar. Si Dedek senyum-senyum sedangkan si Mbak terlihat agak panik. Saya yang amat sangat kelelahan akhirnya berkata "ya Allah Mbak, Umminya lemes habis beresin dalam rumah sekarang terasnya berantakan, Ummi sedih deh." Sambil memasang wajah memelas.

Mbak Azkiya yang mendengar hal tersebut langsung mengambil sapu mini dan pengki yang memang sudah saya siapkan di dalam baskom berisi beras dan mulai menyapu nya, mengumpulkannya, dan memasukkannya ke dalam baskom kembali walaupun hasilnya memang jauh dari harapan. Setidaknya saya melihat usaha yang dilakukan Mbak Azkiya sebagai cara untuk menghibur saya yang mengatakan bahwa saya sedih.

Setelah saya rasa cukup usaha yang dilakukannya, akhirnya saya pun mengatakan, "Azkiya kalau main dibereskan lagi yaa... Azkiya boleh main apa-apa diberantakin, asal setelahnha dibereskan lagi ya. Ummi senang kalau ada yang bantu umi beres-beres. Makasih ya sekali lagi!"

Azkiya yang merasa telah membantu Umminya menjawab dengan senyuman "sama-sama!"

Ternyata Mbak Azkiya pun sudah bisa merasakan simpati dan empati kepada Umminya. Hanya dengan mengatakan bahwa saya sedih dia bersigap untuk membersihkan beras beras yang tercecer di lantai dengan harapan bisa membuat rasa sedih saya berkurang. Menurut saya hal itu bagus sekali Alhamdulillah.


Result: ⭐⭐⭐⭐

Ujian (sekolah)

  Link download ada di bawah Salah satu mapel yang memang agak runyam -buat anak kelas 1 SD, dan terkhusus Azkiya- adalah PAM (Pendidikan An...