Monday, March 15, 2021

Zona 7 Day 8 (Parade Live 3)

 Insight Live FB 10 Maret 2021 – Topik 3 Peran Orangtua dalam Membangkitkan Fitrah Seksualitas (Kelompok 12)

Apa itu Fitrah?

Menurut Harry Santosa, Fitrah merupakan kata dari bahasa Arab yang artinya perangai, tabiat, dll. “Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir. Pengertian fitrah secara sistematik berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki.” Fitah menurut beliau dibagi menjadi 8, salah satunya fitrah seksualitas.

Disebutkan juga satu hadits riwayat Bukhari dan Muslim yang artinya, “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani”. Disini jelas sekali pengertian dari kata fitrah, yaitu kebalikannya dari Yahudi, Nasrani, atau majusi, yaitu Islam atau ketauhidan (meng-esa-an Allah).

Disebutkan juga peran ayah dan ibu masing-masing dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak, dengan harapan dapat terus terjaga fitrahnya hingga dewasa, anak perempuan bersikap layaknya seperti perempuan dan sebaliknya laki-laki bersikap layaknya laki-laki.

Pada tahapan usia 0-2 tahun anak didekatkan kepada ibunya, karena jelas bayi bergantung kepada ASI.

Usia 3-6 tahun didekatkan dengan ayah dan ibunya dengan seimbang dan diharapkan bisa membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Untuk anak usia 7-10 anak-anak diharapkan sudah dapat menutup aurat dengan sempurna (usia menjelang baligh). Anak lelaki didekatkan pada ayahnya sedangkan anak perempuan didekatkan dengan ibunya.

Zona 7 Day 7 (Parade Live 2)

 

Insight Live FB 9 Maret 2021 – Topik 2 Pendidikan Seksualitas Sejak Dini  (kelompok 7)

Setelah menonton live FB mengenai pendidikan seksualitas sejak dini, ada hal yang menyangkut dalam pikiran saya. Ialah tidur terpisah dengan orang tua. Mengapa? Karena saya sudah duluan menuliskan mengenai hal tersebut dan Alhamdulillah berhasil dilakukan kepada anak saya yang pertama (Azkiya). Walaupun memang penjelasannya tidak sedetail pada materi live.

Namun memang benar, banyak sekali faidah yang didapatkan dari memisahkan tidur anak-anak dengan orang tua. Selain mengajarkan anak mengenai privasi (bagian tubuh yang boleh/tidak boleh dilihat), anak juga belajar adab memasuki kamar orang lain. Bagaimana ia harus meminta izin terlebih dahulu ketika akan memasuki kamar orang tuanya. Namun ada juga hal penting dalam hal ini, yaitu menghindari anak-anak yang satu gender (adik-kakak sama-sama perempuan) tidur dalam satu selimut.

Apa bahayanya? Yaitu anak-anak dapat menjurus pada penyimpangan seksual dari sejak kecil. Anak perempuan menjadi lebih ‘nyaman’ dan suka dengan perempuan, begitupun sebaliknya. Naudzubillah.

Usia berapa anak diperintahkan untuk dipisahkan kamarnya?

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud, artinya “Rosulullah saw bersabda, ‘Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka umur tujuh tahun, dan pukullah jika mereka telah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan tempat tidur mereka.’” Dijelaskan bahwa anak sudah harus pisah tidurnya dari orang tua (dan sesama saudaranya) ketika memasuki usia tamyiz, karena disandangkan dengan perintah memukul anak apabila tidak sholat. Namun, tetap saja tidak bisa anak-anak dipisahkan tidurnya secara paksa, harus ada proses. Yang saya lakukan kepada anak pertama saya adalah ini.

Ada juga pertanyaan yang agak menggelitik, yaitu apakah pekerjaan rumah (menyapu, mencuci, beres-beres, dll) hanya diperkenalkan untuk anak perempuan saja dan tidak untuk anak lelaki? Pertanyaan ini muncul karena salah satu pembicara mengatakan untuk ibu sebaiknya memberikan contoh pekerjaan rumah kepada anak perempuannya, agar ia tau bahwa itu adalah ‘tugas’ perempuan.

Cukup menggelitik karena setelah itu dijawab pula bahwa tidak demikian. Bahwa pekerjaan rumah pun harus diperkenalkan kepada anak laki-laki, dengan berbagai alas an. Sayangnya, ia tidak menyebut bahwa Rosulullah pun dahulu mengerjakan pekerjaan rumah dan menjadi layaknya seorang suami biasa (membantu pekerjaan istri) ketika berada di rumah. Selayaknya kita sebagai muslim mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah, wallahu a’lam.

Monday, March 8, 2021

Zona 7 Day 6 (Parade Live 1)

 Bismillah.

Parade live kemarin menjelaskan perbedaan dasar antara gender dan seksualitas. Bagaimana 'bahaya' nya bingung gender. Bagaimana jika anak laki-laki bertingkah seperti perempuan dan sebaliknya. Nauzubillah.

Lalu saya berpikir, bagaimana Al-Qur'an menjelaskan perbedaan seksualitas tersebut?

Satu ayat yang langsung muncul di otak saya adalah penggalan: 

فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَىٰ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَىٰ 

yaitu ketika istri Imron melahirkan Maryam. (QS Ali Imron :36)

Jelas sekali Allah menekankan bahwa laki-laki dan perempuan tidak sama. Semuanya berbeda. Secara fisik dan psikologi berbeda. Kebutuhannya berbeda. Hak dan kewajibannya berbeda. Bahkan dalam pembagian warisan pun berbeda.

Dulu ketika duduk di bangku aliyah saya pernah bertanya mengapa laki-laki 'dijatah' dua kali lipat dari perempuan dalam pembagian warisan. Dan sungguh banyak sekali hikmah. Tidak akan cukup bila saya menuliskan nya disini.

Maka sungguh jika kita kembali mencari ilmu yang bersumber dari Islam, kita tidak akan pernah tersesat. Karena Islam adalah sempurna. Dan sebagai muslim kita harus tunduk dan patuh kepada hukum Islam apabila kita beriman. Sami'na wa atho'na. Bukankan begitu?

Tapi di Islam tidak saya temukan tuh tentang pendidikan/perbedaan gender dan semisalnya? Subhanallah. 

Sudahkah kita menamatkan Tafsir Ibmu Katsir? Penjabaran tafsir Qur'an yang paling sering dirujuk kaum muslimin? Mungkin bukan nya tidak ada, tapi ilmu kita yang masih sangat minim, keingintahuan kita yang kurang, serta wawasan keislaman kita yang sempit. Sehingga ketika ada permasalahan kontemporer, yang kita cari adalah jurnal dan sumber yang berasal dari barat, padahal jika kita mau telisik lagi Al-Quran sudah membahasnya dari 14 abad yang lalu.

Begitu, lalu apakan tidak boleh mengambil ilmu dari barat?

Ya boleh saja. Asalkan kita bisa memfilter mana yang dibolehkan oleh syariat, dan mana yang tidak boleh. Terus bagaimana caranya bisa mengetahui mana yang boleh dan tidak boleh? Ya dengan belajar ilmu-ilmu Islam, seperti ilmu fiqih, fiqih, ilmu tafsir, ilmu hadits, dan yang paling penting dan mendasar adalah ilmu tauhid. Sudahkah kita mempelajarinya?

Ujian (sekolah)

  Link download ada di bawah Salah satu mapel yang memang agak runyam -buat anak kelas 1 SD, dan terkhusus Azkiya- adalah PAM (Pendidikan An...